dunia milenial

Saturday, November 17, 2018

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN, pengukuran kadar klorofil


LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN
PENGUKURAN KADAR KLOROFIL a, b DENGAN SPEKTROFOTOMETER








Oleh :
IKSAN SAPUTRA
NIM. D1B1 17058




JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 
Bagian tanaman yang biasa digunakan untuk proses fotosintesis dengan kandungan klorofil dan posisi sangat penting adalah daun. Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya menjadi energi kimia.
Sebagian besar klorofil terdapat dalam daun namun klorofil juga dapat dijumpai pada bagian-bagian tanaman yang berwarna hijau seperti akar, batang, buah, biji dan bunga dalam jumlah yang terbatas. Sebagian besar klorofil terdistribusi dalam daun, namun persebarannya juga tidak merata. Banyaknya klorofil pada pangkal daun akan berbeda dengan ujung, tengah serta kedua tepi daun. Perbedaan warna daun juga menunjukan adanya perbedaan jumlah klorofil. Warna hijau daun sangat berkolerasi dengan kandungan klorofil. Umumnya semakin hijau warna daun semakin tinggi kandungan klorofilnya. 
Warna hijau meskipun juga ada daun warna ;ain seperti merah, pada daun berasal dari kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah senyawa pigmen yang berperan dalam menyeleksi panjang gelombang cahaya yang energinya diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain, misalnya karoten (berwarna jingga), xantofil (berwarna kuning) dan antosianin (berwarna merah, biru atau ungu, tergantung derajat keasaman). Daun tua kehilangan klorofil sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan jelas pada daun yang gugur). Daun tua selalu lebih banyak mengandung klorofil yang lebih besar daripada daun muda. Adanya perbedaan kandungan klorofil antara daun muda dan tua, nampaknya sangat berkaitan dengan umur daun tersebut. Perbedaan kandungan klorofil pada beberapa spesies tanaman dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Klorofil berasal dari proplastida yaitu plastida yang belum dewasa, kecil dan hampir tidak berwarna dan sedikit atau tanpa membran dalam. Proplastida membelah saat embrio berkembang dan menjadi kloroplas ketika daun dan batang terbentuk. Organ yang terkena cahaya matahari, kloroplas muda akan aktif membelah. Kloroplas terutama berfungsi adalah sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis. Pigmen-pigmen pada membran tilakoid akan menyerap cahaya matahari atau sumber cahaya lainnya dan mengubah energi cahaya tersebut menjadi energi kimia dalam bentuk adenosin trifosfat (ATP).
Tumbuhan tingkat tinggi, klorofil a dan klorofil b merupakan pigmen utama fotosintetik, yang berperan menyerap cahaya violet, biru, merah dan memantulkan cahaya hijau. Molekul klorofil adalah suatu derivat porfirin yang mempunyai struktur tetrapirol siklis dengan satu cincin pirol yang sebagian tereduksi. Inti tetrapirol mengandung atom Mg non-ionik yang diikat oleh dua ikatan kovalen dan memiliki rantai samping. Sintesis klorofil terjadi melalui fotoreduksi protoklorofilid menjadi klorofilid a dan diikuti dengan esterifikasi fitol untuk membentuk klorofil a yang dikatalisis enzim klorofilase. Perubahan protoklorofilid menjadi klorofilid a pada tumbuhan angiospermae mutlak membutuhkan cahaya. Selanjutnya klorofil jenis yang lain disintesis dari klorofil a
Berdasarkan pembahasan di atas, maka pentingnya untuk dilakukan praktikum mengenai pengukuran kadar klorofil a, b dengan spektrofotometer.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
            Tujuan dari kegiatan praktikum ini yaitu untuk mengetahui kadar klorofil pada suatu spesies tumbuhan (klorofil a, b) dan dapat mengetahui perbedaan kadar klorofil pada kondisi kekurangan cahaya dan terpapar cahaya matahari.
            Kegunaan dari praktikum ini adalah dengan adanya praktikum ini para praktikan dapat mengetahui kadar klorofil pada suatu spesies tumbuhan (klorofil a, b) dan dapat mengetahui perbedaan kadar klorofil pada kondisi kekurangan cahaya dan terpapar cahaya matahari.



BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman merupakan salah satu yang memiliki kandungan klorofil yang relatif banyak, Dimana hampir diseruluh permukaan tanaman mengandung klorofil. Kandungan klorofil di dalam tanaman banyak dikarenakan klorofil berperan langsung dalam penangkapan radiasi serta mengubahnya menjadi energi kimia, sehingga jumlahnya tersebut sangat berpengaruh terhadap kecepatan tanaman untuk terus tumbuh. Klorofil sangat penting untuk proses fotosintesis pada tanaman karena dapat memberi pigmen yang beragam pada tanaman. Energi kimia yang dihasilkan ada hubungan terhadap proses respirasi tanaman yang menjadi sangat penting berlangsungnya proses metabolisme dalam tanaman (Malcome, 2011).
Klorofil adalah pigmen karena menyerap cahaya, yakni radiasi elekromagnetik pada spektrum kasat mata (visib). Senyawa putih mengandung semua warna spectrum kasat mata dari merah sampai violet. Tetapi seluruh panjang gelombang unsurnya tidak di serap dengan baik secara merata oleh klorofil. Klorofil ada 2 macam yaitu klorofil a dan klorofil b yang terdiri dari molekul polfirin, hemoglobin, moglobin dan enzim sitokrom (Hanafiah, 2008).
Klorofil merupakan bahan dalam sel-sel daun, batang dan ranting. Klorofil adalah bahan kimia yang memecah asam karbonat dalam udara yang daun gunakan. Dari proses pemecahan ini, karbon diekstrak, dicampur dengan hidrogen. Oksigen dibebaskan, karena cukup oksigen diambil oleh akar untuk mencukupi kebutuhan tanaman. Klorofil adalah zat yang membuat tanaman hijau. Klorofil diperlukan oleh tanaman, tetapi tidak dapat dikembangkan tanpa sinar matahari atau dapat melaksanakan fungsinya meskipun rendah. Setelah mengambil cahaya dari tanaman, klorofil menghilang (Farida, 2014).
Proses pembentukan klorofil pada tanaman cahaya sangat berpengaruh terhapat hasil akhir nantinya. Cahaya sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan klorofil sehingga cahaya yang sedikit dapat menjadi pembatas pembentukan klorofil pada tanaman. Tanaman Klorofil terbagi atas dua macam yaitu klorofiil a dan klorofil b dimana kedua klorofil tersebut sangat penting bagi tanaman. Klorofi a dan klorofil b merupakan komponen utama yang terdapat pada trikoid hal inilah menyebabkan keberadaan klorofil a dan klorrofil b sangat penting pada tanaman khususnya untuk proses fotosintesis pada tanaman (Hayati, 2012).
Klorofil berwarna hijau yang memberikan karakteristik tanaman, dimana fotosintesis berlangsung. Klorofil didefinisikan oleh hubungan kasual. Hal ini klorofil di sebut sebagai substansi, klorofil ada yang tidak memiliki struktur kimia yang sama, zat ini adalah salah satu yang penting dalam fotosintesis, meskipun selama ini diyakini sebagai satu-satunya yang terpenting (Sumenda, 2011).
Daun tua selalu lebih banyak mengandung klorofil yang lebih besar daripada daun muda. Adanya perbedaan kandungan klorofil antara daun muda dan tua, nampaknya sangat berkaitan dengan umur daun tersebut. Perbedaan kandungan klorofil pada beberapa spesies tanaman dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Perbedaan kandungan klorofil setiap tanaman dipengaruhi oleh adanya perbedaan massa jenis tanaman, varietas, status nutrisi, musim serta stress biotik dan abiotik. Selain itu, tipe tanaman, jenis tanah, keadaan iklim setempat, stress dan penyakit tanaman serta nutrisi yang dimilikinya juga berpengaruh terhadap besarnya kandungan klorofil suatu tanaman (Rendy, 2015)
Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan. Ketika cahaya melewati suatu larutan biomolekul, terjadi dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah cahaya ditangkap dan kemungkinan kedua adalah cahaya di scattering . Bila energi dari cahaya (foton) harus sesuai dengan perbedaan energi dasar dan energi eksitasi dari molekul tersebut. Proses inilah yang menjadi dasar pengukuran absorbansi dalam spektrofotometer (Yuli, 2008).
Untuk dapat mengukur kadar klorofil tanaman unsur menggunakan spektrofotometer pentingnya yaitu cahaya. Cahaya memiliki sifat gelombang dan sifat partikel cahaya mencakup bagian dari energi matahari dengan panjang gelombang antara 360 nm sampai 760 nm dan tergolong cahaya tampak. Prinsip dasar penyerapan cahaya adalah bahwa setiap molekul hanya dapat menyerap satu foton dalam waktu tertentu dan foton ini menyebabkan terjadinya eksitasi pada suatu elektron dalam suatu molekul (Dwidjo, 2009)
BAB 3. METODE PRAKTIKUM
3.1. Tempat dan Waktu
          Kegiatan praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Agroteknologi Unit Agronomi pada hari Selasa, 13 November 2018 pada pukul 08:00 WITA sampai selesai.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan yaitu daun hijau (daun umur tua dan muda), kertas saring, aquades dan etanol 95%.
Alat yang digunakan yaitu spektrofotometer, labu ukur, lumping dan palu, saringan, corong dan gelas ukur.
3.3. Prosedur Kerja
          Prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengambil 1 g daun yang segar lalu potong kecil-kecil, potongan kecil ini kemudian di ekstraksi dengan etanol 95% dengan cara menggerusnya dalam lumping sampai seluruh klorofilnya larut.
2.      Meyakinkan bahwa semua pigmen klorofil dari daun telah larut, ditandai dengan ampas yang berwarna putih.
3.      Menyaring ekstrak klorofil ini dengan saringan lalu  memasukan kedalam labu ukur 100 ml tambahkan etanol 95% kalau volume ekstrak dalam labu ukur belum mencapai batas 100 ml.
4.      Menggunakan kuvet, mengukur absorbansi atau “optikal density” larutan hasil ekstraksi tersebut dengan menggunakan panjang gelombang 645 dan 665 nm.







BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Hasil pengamatan pada praktikum ini dapat di lihat dari tabel berikut:
No.
Pengamatan
Daun Muda
Daun Tua
1.
Klorofil Total (Mg/L)
23,69
33,84
2.
Klorofil a (Mg/L)
2,77
5,29
3.
Klorofil b (Mg/L)
9,49
15,62
4.2 Pembahasan
            Klorofil adalah suatu bahan dalam sel-sel umumnya terdapat di daun dan bias juga di batang dan ranting. Klorofil adalah bahan kimia yang memecah asam karbonat dalam udara yang daun gunakan. Dari proses pemecahan ini, karbon diekstrak, dicampur dengan hidrogen. Oksigen dibebaskan, karena cukup oksigen diambil oleh akar untuk mencukupi kebutuhan tanaman. Klorofil adalah zat yang membuat tanaman hijau. Klorofil diperlukan oleh tanaman, tetapi tidak dapat dikembangkan tanpa sinar matahari atau dapat melaksanakan fungsinya meskipun rendah. Setelah mengambil cahaya dari tanaman, klorofil menghilang.
            Tanaman Klorofil terbagi atas dua macam yaitu klorofiil a dan klorofil b dimana kedua klorofil tersebut sangat penting bagi tanaman. Klorofi a dan klorofil b merupakan komponen utama yang terdapat pada trikoid hal inilah menyebabkan keberadaan klorofil a dan klorofil b sangat penting pada tanaman khususnya untuk proses fotosintesis pada tanaman. Hasil akhir yang di hasilkan dari hasil fotosintesis ini sangat di tentukan oleh adanya klorofil pada daun baik daun tua maupun daun muda.
            Pengukuran kadar klorofil pada kedua jenis daun menggunakan alat yang disebut spektrofotometer. Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan. Ketika cahaya melewati suatu larutan biomolekul, terjadi dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah cahaya ditangkap dan kemungkinan kedua adalah cahaya di scattering . Bila energi dari cahaya (foton) harus sesuai dengan perbedaan energi dasar dan energi eksitasi dari molekul tersebut. Proses inilah yang menjadi dasar pengukuran absorbansi dalam spektrofotometer.
            Berdasarkan pengamatan yang dilakukan yaitu menggunakan daun jambu biji dan daun yang dijadikan bahan pengamatan adalah daun muda dan daun tua. Sebelum kedua jenis daun diukur, terlebih dahulu daun di ukur dengan berat 1 g setelah itu di potong kecil-kecil dan di hancurkan menggunakan lumping. Setelah daun hancur kemudian di larutkan dalam alcohol 70% sampai klorofil yang ada pada daun betul-betul larut, langkah terakhir adalah melakukan pengukuran menggunakan spektrofotometer.
            Berdasarkan pengukuran yang dilakukan pada alat spektrofotometer pada daun muda dengan panjang gelombang sebesar 645 terdeteksi optikal density sebesar 0,772 dan dengan panjang gelombang 665 terdeteksi optikal density sebesar 1,354. Pengamatan pada daun tua dengan panjang gelombang sebesar 649 terdeteksi optikal density sebesar 1,143 dan dengan panjang gelombang sebesar 665 terdeteksi optikal density sebesar 1,800. Perbedaan ini di sebabkan oleh panjang gelombang itu sendiri, semakin besar panjang gelombang yang digunakan maka semakin besar optikal density yang terdeteksi.
            Hasil pengukuran tersebut dengan hasil yang didapat berdasarkan rumus perhitungan klorofil yaitu wintermans dan de most, menghasilkan klorofil yang berbeda-beda baik klorofil total, klorofil a dan klorofil b dari semua jenis daun. Klorofil total (mg/L) pada kedua jenis daun yaitu pada daun muda terdapat klorofil 23,69 klorofil dan pada daun tua terdapat 33,84 klorofil. Klorofil a (mg/L) pada kedua jenis daun yaitu pada daun muda terdapat klorofil 2,77 dan pada daun tua terdapat klorofil 5,29. Klorofil b (mg/L) pada kedau jenis daun yaitu pada daun muda terdapat klorofil 9,49 dan pada daun tua terdapat klorofil 15,62.
           
           

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa Klorofil adalah bahan kimia yang memecah asam karbonat dalam udara yang daun gunakan. Dari proses pemecahan ini, karbon diekstrak, dicampur dengan hidrogen. Oksigen dibebaskan, karena cukup oksigen diambil oleh akar untuk mencukupi kebutuhan tanaman. Klorofil adalah zat yang membuat tanaman hijau. Hasil perhitungan klorofil menunjukan bahwa kedua jenis daun mengandung klorofil yang berbeda dan terdapat perbedaan jumlah antara klorofil a dan klorofil b pada kedua jenis daun. Perbedaan kandungan klorofil ini bisa di sebabkan oleh berbagai faktor salah satunya adalah cahaya matahari. Semakin besar cahaya matahari yang ditangkap oleh daun maka semakin besar pula kandungan klorofil pada daun. Perbedaan ini juga bias terjadi karena kesalahan pada saat melakukan praktikum.
5.2 Saran                                                                                                                   
            Berdasarkan praktikum yang telah di lakukan dengan lancar dan baik. Untuk praktikum selanjutnya saya harap tetap di pertahankan kemajuan saat ini dan kalau bisa di tingkatkan. Alat-alat yang digunakan di laboratorium hendaknya di tambah lagi jumlahnya agar jalannya praktiukm lebih cepat dan efisien.









DAFTAR PUSTAKA
Dwidjo  Seputro.  2009.  Biologi.  Jakarta:  Erlangga.

Farida, R. 2014. Ekstraksi Antosianin Limbah Kulit Manggis Metode Microwave Assisted Extraction (Lama Ekstraksi dan Rasio Bahan Pelarut). Jurnal Pangan dan Agroindustri. 3(2).

Hanafiah K.A. 2008. Rancangan Percobaan dan Teori Aplikasi. Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Palembang

Hayati, E. K. 2012. Konsentrasi Total Senyawa Antosianin Ekstrak Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus Sabdariffa L.) Pengaruh Temperatur dan pH. Jurnal Kimia. 6(2).

Malcome. B. W  dan Iskandar. 2011.  Fisiologi Tanaman. Bandung: Bumi Aksara.

Rendy, R.M. 2015. Kadar Total Pigmen Klorofil dan Senyawa Antosianin Ekstrak Kastuba (Euphorbia pulcherrima) Berdasarkan Umur Daun. jurnal fkip. 1(2).

Sumenda, L. 2011. Analisis Kandungan Klorofil pada Daun Mangga (Mangifera Indica L.) pada Tingkat Perkembangan Daun yang Berbeda. Jurnal Bioslogos. 1 (1).

Yuli Rohyami. 2008. Penentuan Kandungan Flavonoid dari Ekstrak Metanol Daging Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa Scheff Boerl). Jurnal logika. 5(1).



LAPORAN FISIOLOGI TUMBUHAN, Pengukuran Transpirasi


LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN
PENGUKURAN TRANSPIRASI








Oleh :
IKSAN SAPUTRA
NIM. D1B1 17058




JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 
Air yang ada didalam tubuh tumbuhan selalu mengalami fluktuasi tergantung pada kecepatan proses masuknya air kedalam tumbuhan, kecepatan proses penggunaan air oleh tumbuhan, dan kecepatan proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan. Proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan melaluistomata inilah yang disebut transpirasi. Kemungkinan hilangnya air dari jaringan tanaman melalui kegiatan tanaman dapat terjadi, tetapi persentase  tersebut sangat kecil apabila dibandingkan dengan hilangnya air melalui stomata. Oleh karena itu, dalam perhitunganya, besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan tanaman umumnya difokuskan untuk air yang hilang melalui stomata. Proses transpirasi berlangsung selama tumbuhan hidup.
Kecepatan transpirasi yang terjadi antar tumbuhan dapat berbeda-beda tergantung jenis tumbuhan tersebut. Ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan untuk mengukur besarnya transpirasi, salah satunya adalah dengan menggunakan metode penimbangan. Sehelai daun segar ataupun seluruh bagian tumbuhan beserta potnya ditimbang. Jangka waktu yang telah ditentukan, tumbuhan tersebut ditimbang lagi. Selisih berat yang didapatkan dari kedua penimbangan merupakan angka  penunjuk besarnya laju transpirasi. Metode penimbangan dapat pula ditujukan kepada air yang hilang, yaitu uap air yang terlepas ditangkap dengan dengan zat higroskopik yang telah diketahui beratnya. Penambahan berat merupakan petunjuk untuk mengetahui besarnya transpirasi.
Pengangkutan garam mineral dari akar ke daun terutama lewat xilemdan kecepatanya dipengaruhi oleh kecepatan transpirasi. Transpirasi itu padaha kikatnya sama dengan penguapan akan tetapi istilah penguapan tidak digunakan pada makhluk hidup. Transpirasi tidak melalui kutikula, stomata, dan inti sel sebenarnya seluruh bagian tanaman mengadakan transpirasi akan tetapi biasanya yang dibicarakan transpirasi lewat daun tersebut. 
Secara alamiah tumbuhan mengalami kehilangan air melalui penguapan. Proses kehilangan air pada tumbuhan ini disebut transpirasi. Hal yang penting  dalam transpirasi adalah difusi uap air dari udara yang lembab di dalam daun ke udara kering di luar daun. Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air ke dalam daun dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan dari tanah ke akar. Ada banyak langkah dimana perpindahan air dan banyak faktor yang mempengaruhi pergerakannya. Besarnya uap air yang ditranspirasikan dipengaruhi olh beberapa faktor, antara lain: (1) Faktor dari dalam tumbuhan (jumlah daun, luas daun, dan jumlah stomata); (2) Faktor luar (suhu, cahaya, kelembaban, dan angin).
Beberapa penggantian air berasal dari dalam sel daun melalui membran plasma. Ketika air meninggalkan daun, molekul air menjadi lebih kecil. Hal ini akan mengurangi tekanan turgor. Jika banyak air yang dipindahkan, tekanan turgor akan menjadi nol. Oleh karena itu, sel menjadi lunak dan kehilangan kemampuan untuk mendukung daun. Hal ini dapat terlihat ketika tanaman layu. Untuk mengetahui tingkat efisiensi tumbuhan dalam memanfaatkan air, sering dilakukan pengukuran terhadap laju transpirasi. Tumbuhan yang efisien akan menguapakan air dalam jumlah yang lebih sedikit untuk membentuk struktur tubuhnya (bahan keringnya) dibandingkan dengan tumbuhan yang kurang efisien dalam memanfaatkan air.
 Berdasarkan pembahasan di atas, maka pentingnya untuk dilakukan praktikum mengenai pengukuran traspirasi.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
            Tujuan dari kegiatan praktikum ini yaitu untuk mengetahui kecepatan transpirasi dan mengetahui jumlah air yang di uapkan/satuan.
            Kegunaan dari praktikum ini adalah dengan adanya praktikum ini para praktikan dapat mengetahui kecepatan transpirasi dan jumlah air yang di uapkan/satuan.





BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Sebagian besar dari air, sekitar 99 persen, yang masuk kedalam tumbuhan meninggalkan daun dan batang sebagai uap air. Proses tersebut dinamakan transpirasi. Sebagian besar dari jaringan yang terdapat dalam daun secara langsung terlibat dalam transpirasi. Pada waktu transpirasi, air menguap dari permukaan sel palisade dan mesofil bunga karang ke dalam ruang antar sel. Dari ruang tersebut uap air berdifusi melalui stomata ke udara. Air yang hilang dari dinding sel basah ini diisi air dan protoplas. Persediaan air dari protoplas, pada gilirannya, biasanya diperoleh dari gerakan air dari sel-sel sekitarnya, dan akhirnya tulang daun, yang merupakan bagian dari sistem pembuluh yang meluas ke tempat persediaan air dalam tanah (Tim Dosen Upi, 2014).
Transpirasi merupakan proses pergerakan air dalam tubuh tanaman dan hilang menjadi uap air ke atmosfir. Proses transpirasi dimulai dari absorbs air tanah oleh akar tanaman yang kemudian ditransport melalui batang menuju daun dan dilepaskan (transpired) sebagai uap air ke atmosfir. Laju transpirasi dipengaruhi oleh faktor karakter vegetasi, karakter tanah, lingkungan serta pola budidaya tanaman Cepat lambatnya proses transpirasi ditentukan oleh faktor-faktor yang mampu merubah wujud air sebagai cairan ke wujud air sebagai uap atau gas dan faktor-faktor yang mampu menyebabkan pergerakan uap atau gas. Faktor-faktor tersebut meliputi suhu, cahaya, kelembaban udara, dan angina. Di samping itu luas permukaan jaringan epidermis atau luka tempat proses transpirasi berlangsung juga ikut berperan (Sulistyowati, 2010).
Laju transpirasi mempunyai relasi dengan jenis tanaman dan populasi tanaman. Perbedaan jenis tanaman berpengaruh terhadap laju transpirasinya. Tiap vegetasi mempunyai struktur akar dan tajuk yang berbeda-beda. Struktur tajuk, fisiologi tanaman, indeks luas daun dan conductance stomata berpengaruh terhadap transpirasi. Volume air tanah yang mampu diserap oleh tanaman sangat bergantung pada pola perakaran, semakin tinggi penetrasi akar pada tanah maka akansemakin banyak air yang mampu diserap oleh tanaman sehingga volume air yang mengalami transpirasi juga semakin tinggi. Perbedaan struktur kanopi dapat dilihat dari perbedaan struktur batang serta daun yaitu luas daun tanaman, dimana semakin tinggi indeks luas daun tanaman maka semakin tinggi laju transpirasi tanaman (Sugeng, 2016).
Tingkat curah hujan dan temperatur merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap laju transpirasi tanaman. Laju transpirasi tanaman bergantung pada curah hujan dimana tingginya curah hujan diikuti oleh peningkatan laju transpirasi tanaman. Dalam proses transpirasi, air bergerak dari daun yang mempunyai tingkat kelembaban yang lebih tinggi menuju atmosfir yang lebih kering sehingga temperature udara mempunyai pengaruh terhadap laju transpirasi. Temperature tanah juga merupakan faktor pembatas transpirasi dimana pada suhu dibawah +80 C conductance stomata rendah dan permeabilitas akar menurun sehingga menghambat laju transpirasi tanaman (Tobi, 2010).
Proses transpirasi ini selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga dapat mendinginkan tanaman yang terus menerus berada di bawah sinar matahari. Mereka tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari karena melalui proses transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar keberlangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin (Haryanti, 2010).
Transpirasi melalui kutikula, stomata dan melalui lentisel. Sebenarnya seluruh bagian tanaman itu mengadakan transpirasi, akan tetapi biasanya yang kita bicarakan hanyalah transpirasi lewat daun, karena hilangnya molekul-molekul air dari tubuh tanaman itu sebagian besar adalah lewat daun. Hal ini disebabkan karena luasnya permukaan daun dan juga karena daun-daun itu lebih kena udara dari pada bagian-bagian lain dari suatu tanaman (Izza, 2015).
Kegiatan transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam maupun luar. Faktor dalam antara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan letak stomata dan faktor luar antara lain, kelembaban, bila daun mempunyai kandungan air yang cukup dan stomata terbuka, maka laju transpirasi bergantung pada selisih antara konsentrasi molekul uap air di dalam rongga antar sel di daun dengan konsentrasi mulekul uap air di udara. Suhu, Kenaikan suhu dari 180 sampai 200 F cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Cahaya, cahaya memepengaruhi laju transpirasi melalui dua cara pertama cahaya akan mempengaruhi suhu daun sehingga dapat mempengaruhi aktifitas transpirasi dan yang kedua dapat mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata. Angin, angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju transpirasi. Kandungan air tanah, laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan alju absorbsi air di akar (Binsani, 2016).
Unsur kalium sangat memegang peranan dalam proses mermbuka dan menutupnya stomata (stomata movement) serta transportasi lain dalam hara lainnya, baik dari jaringan batang maupun lasngsung dari udara bebas. Dengan adanya defisiensi kalium maka secara langsung akan memperlambat proses fisiologi, baik yang melibatkan klorofil dalam jaringan daun maupun yang behubungan dengan fungsi stomata sebagai faktor yang sangat penting dalam produksi bahan kering secara umum. Semakin lama defisiensi kalium maka akan semakin berdampak buruk terhadap laju proses fisiologi dalam jaringan daun. Semakin berat defisiensi kalium pada gilirannya akan berdampak semakin parah terhadap rusaknya pertumbuhan daun (Marjenah, 2010).









BAB 3. METODE PRAKTIKUM
3.1. Tempat dan Waktu
          Kegiatan praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Agroteknologi Unit Agronomi pada hari Selasa, 23 Oktober 2018 pada pukul 08:00 WITA sampai selesai.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah tanaman pacar air (Impatiens balsamina L), air, botol, bekas volume 600 ml, gabus, plastik wrap dan kertas HVS/A4.
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan analitik, stopwatch, gunting dan alat tulis menulis.
3.3. Prosedur Kerja
          Prosedur kerja yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu:
1.      Mendengarkan arahan dan bimbingan asisten.
2.      Mengisi botol dengan air kurang lebih setengahnya dan tutup dengan gabus yang berlubang.
3.      Memasukan tanaman pacar air panjang sekitar 40 cm dalam botol melalui lubang gabus.
4.      Merekatkan dengan plastik wrap pada sekeliling gabus dan lubang gabus untuk mencegah penguapan selain melalui tanaman.
5.      Menimbang botol bersama tanamannya dan catat beratnya. Selanjutnya letakan dalam ruangan
Cara mengukur luas daun total (LDT) :
 LTD = x/y (cm)
Kecepatan transpirasi tiap cm daun/jam = mg/cm2/jam, dengan persamaan: a/b. Dimana:
            A = selisih rata-rata berat total + tanaman pada awal percobaan dan setelah 1 jam percobaan (mg)
            B = luas total daun (cm2)
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil  Pengamatan
Hasil pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
No.
Pengamatan
Selisih
Kecepatan transpirasi tiap mg/cm/jam
1.
Suhu Luar Ruangan
0,1
4,8
2.
Suhu Dalam Ruangan
0,14
2,6

4.2 Pembahasan
Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap air dari jaringan tumbuhan melaui stomata, kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian lain dapat saja terjadi, tetapi persentase kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Oleh sebeb itu, dalam perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan tanaman difokuskan pada air yang hilang melalui stomata. Pada percobaan ini diberikan dua perlakuan pada daun pacar air, yang pertama botol diletakkan diluar ruangan yang terkena cahaya matahari dan yang kedu botol diletakkan didalam ruangan yang tidak terkena cahaya matahari. Keadaan daun masih segar dan belum ada pengurangan berat botol yang diluar ruangan maupun yang didalam ruangan.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pratikan selama  3x20 menit, didapatkan hasil bahwa pada pengamatan luar ruangan terjadi selisih berat antara pengamatan 1, 2 dan 3 yaitu sebesar 0,1, dengan kecepatan transpirasi tiap cm daun/jam sebesar 4,8 mg/cm/jam. Pengamatan pada pengamatan 1, 2 dan 3 dengan selisih berat setiap pengamatan sebesar 0,14, dengan kecepatan transpirasi tiap cm daun/jam. Perbedaan ke dua pengamatan ini di dasarkan dengan adanya perbedaan transpirasi baik dari tanaman itu sendiri   maupun dari luar tanaman.
Laju transpirasi dipengaruhi oleh sinar matahari. Selain itu kelembaban juga sangat berpengaruh bila daun mempunyai kandungan air yang cukup dan stomata terbuka, maka laju tranpirasi bergantung pada selisih antara konsentrasi molekul uap ar ditumbuhan dengan uap air di udara. Konsentrasi uap air di tumbuhan berbaning terbalik degan konsentrasi uap air di udara. Sehingga, transpilasi akan menurun jika kelembaban menigkat. Lalu suhu juga berpengaruh, karena semakin tinggi suhu, transpilasi akan meningkat.
Cahaya juga berpengaruh pada transpirasi, seperti yang terihat pada pengamtan suhu luar ruangan terjadi transpirasi yang cukup besar, karena pada hari pengamtan cuaca sedang dalam keadaan panas, kelembaban rendah dan sushu tinggi serta cahaya matahari cuup terik untuk membuat tumbuhan pacar air  berbertanspirasi dengan baik. Sedagkan pada kondisi suhu dalam ruangan, tidak terlalu terjadi tranpirasi yang cukup signifikan karena kurangnya cahaya, suhu serta kelembaban.
Ciri dan struktur daun juga akan meningkatkan luas permukaan untuk penguapan air. Terdapat faktor luar dan faktor dalam pada transpilasi. Faktor lur antara lain radiasi, temperature, kebasahan udara, tekanan udara, angin, keadaan ai di dalam tanah. Faktor dalam anatara lain besar-kecilnya aun, tebal tipisnya daun, da tidaknya lapisan lilin, banyak sedikitnya bulu, stomata, bentuk serta lokasi stomata.










BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dalam mengukur dan mengamati proses transpirasi dengan metode penimbangan dapat disimpulkan bahwa tranpirasi yang terjadi lebih besar pada suhu luar ruangan ketimbang suhu dalam ruangan. Hal ini disebabkan karena suhu di luar ruangan keadannya lebih tinggi dari pada suhu di dalam ruangan. Sedangkan kenyataan pada tanaman yang berada diluar ruangan pertumbuhannya lambat dan lebih cepat layu mungkin bisa dikarenakan oleh beberapa faktor dari sipengamatnya ataupu dari lingkungan/luar seperti cahaya matahari, kelembapan, suhu, angin, dan air tanah. Pada intensitas cahaya yang tinggi kelembaban udara berkurang, sehingga proses transpirasi berlangsung lebih cepat.

5.2 Saran
            Saran yang dapat saya berikan pada praktikum ini yaitu hendaknya kakak asisten bisa  menjelaskan kepada praktikan mengenai prosedur kerja yang akan dilakukan dengan jelas agar praktikan tidak bingung saat kegiatan praktikum berlangsung serta bimbingan dan arahan sangat di perlukan demi kelancaran praktikum.










DAFTAR PUSTAKA
Binsani R. 2016. Evaporasi dan Transpirasi Tiga Spesies Dominan dalam Konservasi Air di Daerah Tangkapan Air (DTA) Mata Air Geger Kabupaten Bantul Yogyakarta. Jurnal Pendidikan biologi. 1 (3).
Haryanti, S. 2010. Jumlah Dan Distribusi Stomata Pada Daun Beberapa Spesies Tanaman Dikotil Dan Monokotil. Jurnal Buletin Anatomi Dan Fisiologi, 1 (8).
Izza Faizatul. 2015. Karakteristik Stomata Tempuyung (Sonchus Arvensis L.) Dan Hubungannya Dengan Transpirasi Tanaman Di Universitas Islam Negeri (Uin) Maulana Malik Ibrahim Malang. Jurnal Uns. 1 (1).
Marjenah M. 2010. Pengaruh Kandungan Air Tanah Terhadap Pertumbuhan Dan Transpirasi Semai Shorea Leprosula Miq. Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa. 4 (1).
Sugeng P.M Dan Teguh S.L. 2016. Studi Laju Transpirasi Peltophorum Dassyrachis Dan Gliricidia Sepium Pada Sistem Budidaya Tanaman Pagar Serta Pengaruhnya Terhadap Konduktivitas Hidrolik Tidak Jenuh. J-Pal. 7 (1).
Sulistyowati, Uut. 2010. Biologi. Pt. Temprina Media Grafika: Nganjuk.
Tim Dosen Upi. 2014.  Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Tobi. 2010. Biologi. Jakarta : Tim Olimpiade Biologi Indonesia








LAMPIRAN
Rumus: LTD = x/y (cm)
Kecepatan tranpirasi = a/b
Diketahui:                                                                   Ditanyakan:
Dalam ruangan:           Luar ruangan:                          a =….?
X1 = 0,092 g                X1 = 0,035 g                            b =….?
X2 = 0,074 g                X2 = 0,039 g
X3 = 0,072 g                X3 = 0,031 g
X4 = 0,077 g                X4 = 0,029 g
Y  = 0,006 g
Berat tanaman awal (suhu luar ruangan)    = 463,25 g
Berat tanaman awal (suhu dalam ruangan) = 356,91 g
Suhu luar ruangan:
Berat tanaman setelah 20 menit pertama = 463,12 g
Berat tanaman setelah 20 menit ke dua   = 463,04 g
Berat tanaman setelah 20 menit ke tiga   = 462,95 g
Suhu dalam ruangan:
Berat tanaman setelah 20 menit pertama = 356,78 g
Berat tanaman setelah 20 menit ke dua   = 356,61 g
Berat tanaman setelah 20 menit ke tiga   = 356,47 g
Dimana a = selisih rata-rata berat botol + tanaman setelah 1 jam percobaan (mg)
              b = Luas total daun (LTD) (cm2)
Penyelesaian:
Selisih rata-rata berat botol P1
D1 = 0,092 g                L1 = 0,035 g                           
D2 = 0,074 g                L2 = 0,039 g
D3 = 0,072 g                L3 = 0,031 g
D4 = 0,077 g                L4 = 0,029 g
        0,316 g                        0,124 g
Selisih rata-rata berat botol suhu luar ruangan    (a­1) = 0,3/3   = 0,1 g
Selisih rata-rata berat botol suhu dalam ruangan (a2) = 0,44/3 = 0,14 g
b1 = 0,124/0,006 = 20,67
b2 = 0,132/0,006 = 22,67
Kecepatan transpirasi  = a/b
a1/b1 = 0,1/20,67   = 0,0048 x 1000 = 4,8
a2/b2 = 0,14/22,67 = 0,0061 x 1000 = 6,1

Tugas PENGANTAR REKAYASA INFRASTRUKTUR DAN LINGKUNGAN “PENGELOLAAN AIR LIMBAH” PROGRAM STUDI REKAYASA INFRASTRUKTUR DAN LINGKUNGAN JURUSAN ...